Monday, December 7, 2015

Murid Dan Guru



hemm penasaran ya?!

judul diatas adalah salah satu judul dari buku yang ditulis oleh ustadz miftahul Jinan dalam smart parents for smart student.


Judul diatas menggambarkan betapa kawatirnya orang tua dalam perjalanan anaknya dalam menempuh kehidupan disekolahnya, lebih condong kepada iri sih. Betapa tidak, bayangkan anak sendiri bila dibilangin tidak mau mendengarkan, akan tetapi bila dinasihati oleh gurunya malah nurut.



Iri karena kemampuan guru didalam mengarahkan putra-putri kita, khawatir akan semakin hiangnya otoritas kita sebagai orang tua atas mereka. Kita merasa takut bila putra-putri kita pada kemudian hari tidak lagi mau menaati kita sebagai orang tuanya, padahal kitalah yang merawat dan membiayai mereka sehari-hari.


Memang wajar bila kita merasa seperti itu, tapi menginformasikan bagi seluruh orang tua bahwa hal itu patut untuk disyukuri, karena beberapa psikologi justru melihat fenomena tersebut sebagai sebuah kesuksesan dari suatu proses pendidikan.


Anak yang selama ini hanya menerima otoritas orangtua telah mengalami perkembangan sosial, ia menerima otoritas lain yaitu otoritas gurunya. kegalalan proses ini adalah kika anak tidak menganggap kepercayaan orang lain.


Patut disyukuri juga bahwa yang dipercayai adalah guru, yang nota banenya adalah orang yang dapat dipercaya, bertanggung jawab. banyak teman sebayanya yang mungkin kurang mempunyai sifat yang baik dan dia sebagai yang dipercayai anak kita.


buku ini menjawabnya. Kewajiban orang tua dalam masalah ini adalah belajar untuk memahami sikap tersebut adalah hal wajar bahkan perlu disyukuri mengamati apa yang telah dianjurkan dan apa yang dilarang guru terhadap putra-putrinya, serta bagaimana guru guru tersebut melakukannya

kata kuncinya adalah attachment kedekatan antara orang tua dan anak, apakah kita merasa telah dekat dengan anak dan mereka merasa dekat dengen kita. Jangan-jangan kita selaku orang tua merasa cukup dekat dengan anak, tetapi sebaliknya mereka tidak merasakan sama sekali kedekatan itu dengan kita.


Betapa dekatnya rasul kita, Muhammad saw., dengan anak, yang rela berlama-lama sujud hanya karena menunggu cucunya menikmati tunggangan pundak kakeknya.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment