Monday, December 7, 2015

Mama Eksis






Suatu hari ketika saya hanya berdua saja dengan suami, sambil menatap kedua bola mata saya lurus2, beliau berkata dg nada menggoda, "Wah mama skrg sudah tidak punya teman lagi, ya..heheehe" Saya tidak heran suami berkata begitu karena mungkin suami merasakan dan melihat sendiri, saya sangat jarang berkomunikasi atau hang out bersama teman2 saya seperti yg beliau lihat dulu sebelum kita menikah dan awal2 pernikahan.

Saya adl tipe orang yang terkadang menyenangkan dan rame, tp tak jarang pula jd orang yg penggerutu dan jutek. Alhamdulillah, dg sifat sy yg begitu masih ada teman2 dan sahabat yang bersedia berkawan dengan saya, heheehe.

Hang out ke mall, sekedar window shopping dan mencoba cafe baru bersama teman itu hal yg sangat biasa dilakukan sejak sy belum menikah. Anyway, usia pernikahan kami sudah satu tahun lebih. Saat ini sy sangat mengurangi aktivitas semacam itu. Entah mengapa, saya sendiri heran, sepertinya keinginan untuk jalan2, ngobrol dg teman dan aktivitas yg semacamnya seolah menguap begitu saja.

Padahal tidak ada komitmen apapun entah itu dr suami atau dr hati sy sendiri utk membatasi pergaulan dg teman2. Semua saya lakukan secara tidak sadar, dan lambat laun sy merasa bahwa saat ini tidak lagi memiliki teman.

Apakah saya sedih atau kesepian? Mungkin jawabannya iya jika blm memiliki seorang suami. Namun kali ini jawabannya adl tidak. Coba kita renungkan, terutama bagi para istri2 muda yg keinginan eksisnya msh sangat tinggi, apalagi yg kita cari di dunia ini selain kesenangan bersama suami dan keluarga utk menggapai surgaNya. Ada sebuah sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany)."

 Sungguh simple sekali ternyata bagi seorang perempuan memperoleh surga. Tidak ribet, Tidak banyak syarat, Tidak perlu mengeluarkan uang, Tidak mahal. Bahkan kita bisa memilih dari pintu manapun yg kita suka dg syarat yg mudah. Beribadah pada allah dan taat kepada suami. Lantas mengapa sy lihat kenyataan diluar justru sebaliknya.

Perempuan2 bersuami itu sering terlibat dalam kegiatan menghabiskan waktu diluar rumah bersama teman2nya untuk sekedar belanja, arisan jutaan rupiah, nongkrong sambil membicarakan teman atau anggota kelompok yg tidak hadir, dan kegiatan lain yg lebih kepada 'kill their time' yang berujung pada kegiatan mubadzir dan tidak mendatangkan pahala.

Wah, mbak febria iri ya tidak bisa seperti mereka? Hehehe..., Kalaupun ada pertanyaan sperti itu, pertama kali yg saya lakukan adl tertawa lepas saja. Bagaimana sy iri dg kehidupan yg menonjolkan kekayaan, makan direstoran dan cafe mewah di foto kemudian diupload ke media sosial, ingin menunjukkan eksistensi bahwa kita kaya serta punya segalanya.

Oh my God.. Saat ini siapapun orangnya dan dari latar belakang manapun, kalau dia mau berusaha keras menjadi perempuan2 dg gaya hidup selangit, pasti bisa. Tak terkecuali dg saya pribadi. Namun bagi saya, untuk apa. Mungkin sy memang berbeda dg orang2 itu dalam memaknai kebahagiaan dan menikmati hidup.

Kebahagiaan bukanlah apa yg nampak, tp kebahagiaan adl apa yg kita rasakan.

Bayangkan saja, betapa repotnya ketika harus menunjukkan bahwa kita mampu beli tas, baju, sepatu, gadget dan barang2 branded lain ke media sosial dan teman2 perkumpulan kita, sementara semuanya kita peroleh dg merengek2 kepada suami, menghabiskan uang belanja, hutang sana sini, dan berujung mengeluh krn suami tidak mampu memenuhi keinginan dan gaya hidup kita sehingga kita di cap sebagai perempuan kufur kpd suami yg telah lelah mencari nafkah banting tulang utk keluarganya.Sangat merepotkan dan bukan itu namanya hidup bahagia.

Loh, mbak saya kerja kok punya penghasilan sendiri, jd tidak masalah dong dg gaya hidup saya. Well, meskipun kita mampu mencari uang sndiri, percayalah, sebanyak apapun yg kita peroleh, tidak akan pernah cukup utk memenuhi gaya hidup kita. Dengan menjalani kehidupan yg penuh kemubadziran, maka keberkahan tak akan lg kita dapatkan. Semua seperti kurang terus. 

Oleh karenanya, mengapa sy tidak memilih kehidupan seperti itu. Karena jujur, ehm.. Sy pernah menjadi bagian dr kehidupan tsb. Dulu, sblm gencar2 nya media sosial semacam instagram (facebook dan twitter ada kok, sy kan ga tua2 amat, hehe) sy mengalami kehidupan semacam itu dan sy tau berapa uang yg harus sy habiskan sekali nongkrong di cafe, atau sekedar window shopping, dan gaya hidup yg lain.Dari pengalaman itulah sy belajar. Hanya orang bodoh yg tidak mau belajar dr apa yg pernah ia alami.

Tentu saja, kita semua tidak ada yg suci dan bersih dr kesalahan. Saya pun pernah berbuat kesalahan sehingga tidak ada salahnya sy menuliskan hal ini supaya bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yg membaca termasuk diri saya sndiri.
Membatasi pergaulan bukan berarti tidak memiliki teman atau tidak boleh berteman.

Saran saya, pilih teman yg bisa membawa kebaikan utk kita. Yg dibicarakan adl hal2 bermanfaat dan menjadikan kita jauh lbh baik, bukan malah yg menjerumuskan kita kedalam hal2 mubadzir. Syukur2 kelak ia bisa membawa kita meraih ridho Allah sehingga bisa bersama-sama masuk surga. Keren kan. Apalagi yg jadi cita-cita kita di dunia selain memperoleh surga?

Jika sudah,maka yg kita dapatkan adalah kebahagiaan di dunia dan insya allah di akhirat kelak. Aamiin. Bahagia itu simple. Bersyukur pasti mendatangkan kebahagiaan. Surga pun sangat mudah diperoleh dengan cara yg amat sederhana bagi kita, para perempuan bersuami. Fokus kepada akhirat, insya Allah kita akan lupa melakukan hal2 tidak penting di dunia. #Reminderformyself

Dan akhirnya sy tanggapi godaan suami sy ttg teman yg tidak lagi sy miliki, sy pun menjawab santai, "hidup dg papa saat ini jauh lbh penting, berumah tangga pasti membatasi ruang gerak kita baik secara langsung maupun tidak langsung. Itu harus diterima sebagai konsekuensi. Atau jangan2 papa ingin aku punya banyak teman sprti dulu dan mengizinkan bermain2 lagi bersama mereka?"  hehehe... ;)
Malang, 29 okt 2015, 04.32

Febria Anisaningrum

Reactions:

2 comments:

  1. Bahagia dengan apa yang sudah kita miliki, ya, Mbak. Nanti kalau gak bersyukur punya suami, suaminya kabur, lho. Hehehe... becanda.
    Emang kalau mengikuti gaya hidup, gak akan pernah cukup uang kita, dan mungkin (mungkin sih, karena alhamdulillah saya gak ngikutin gaya hidup :)) hati gak akan pernah puas...
    Salam kenal, Mbak Febria :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah.. Iya mb betul bgt. Lingkungan juga sangat berpengaruh.
      Salam kenal juga ya mb diah.. :) sy baru belajar nulis, jd sangat menerima masukan dan saran2.

      Delete